Gapura Udayana
Gapura Udayana

Tulisan ini Saya tujukan kepada seluruh kawan-kawan mahasiswa Universitas Udayana terutama kepada para rekan-rekan mahasiswa baru angkatan 2017, selamat atas kuliah perdananya dan selamat telah menjadi bagian dari kampus yang bersejarah ini. Sebuah kampus yang lahir dari harapan masyarakat yang mencita-citakan berdirinya sebuah kampus yang menjadi pusat pengetahuan, pusat pengembangan, pusat pemberdayaan, dan tentunya menjaga nilai-nilai pokok ilmiah kebudayaan.

Cakra Udayana
Cakra Udayana

Gagap gempita rangkaian pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru (PKKMB) telah usai. Saatnya kita bergegas dan kembali memasuki gedung-gedung kampus menjadi mahasiswa pada umumnya. Belajar dengan penuh gairah dan tanggung jawab supaya dapat lulus tepat waktu, alih-alih bisa tamat lebih cepat. Itulah akhir-akhir ini yang menjadi kebiasaan kita, seolah-olah berkuliah seperti motif ekonomi (mengeluarkan modal sedikit-dikitnya namun dapat menghasilkan untung yang sebesar-besarnya). Semakin cepat lulus, tentu beban yang ditanggung oleh orang tua akan semakin sedikit, lalu peluang untuk bekerja akan lebih cepat. Sungguh sesuatu pemikiran dan tindakan yang mulia.

Lalu izinkan pada kesempatan ini, Saya bertanya dan mohon dijawab dari lubuk hati yang paling dalam, apakah jadinya jika mahasiswa pada masa pergerakan dulu yaitu pada tahun 1908 berpikiran demikian? Apakah yang akan terjadi jika pada periode 1928 para mahasiswa hanya memikirkan dirinya sendiri dengan orientasi lulus tepat waktu dan bekerja untuk pabrik-pabrik milik Kompeni Belanda? Lalu seperti apakah wajah republik hari ini jika pada tahun 1945, 1966, 1974-1998 seluruh Mahasiswa Indonesia berpikiran lulus tepat waktu dan bekerja sesegera mungkin agar modal besar untuk berkuliah dapat kembali secepatnya.

Apakah tujuan untuk berkuliah di perguruan tinggi seperti itu? Saya meyakini bahwa lulus tepat waktu atau lebih cepat adalah sesuatu yang positif selama tidak menjadikan mahasiswa tersebut ingkar terhadap esensinya sebagai mahasiswa, sebagai pemuda dan sekaligus sebagai manusia. Semua periode dari 1908 hingga 1998 tersebut telah menjadi saksi sejarah bahwa sanya mahasiswa senantiasa menempatkan dirinya menjadi garda terdepan di dalam memperbaharui kondisi masyarakat. Mahasiswa senantiasa hadir untuk memperbaiki tatanan masyarakat yang sedang dikoyak-koyak oleh kepentingan pribadi, kelompok hingga lingkup negara.

Aksi Mahasiswa Bali terhadap Hak Angket DPR terhadap KPK
Aksi Mahasiswa Bali terhadap Hak Angket DPR terhadap KPK

Jika boleh menggunakan perumpamaan Soe Hok Gie (Aktivis Gerakan Mahasiswa Angkatan 66) dalam menggambarkan tentang arti menjadi seorang mahasiswa. Hok Gie mengumpamakan bahwa perjuangan mahasiswa seperti perjuangan koboi. Seorang koboi datang ke sebuah kota dari horizon yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan, dan ketidakadilan yang dilakukan oleh bandit. Koboi ini menantang sang bandit berduel, dan ia menang. Setelah banditnya mati, penduduk kota yang ingin berterima kasih mencari sang koboi. Tetapi ia telah pergi lagi ke horizon yang jauh. Ia tidak ingin pangkat dan sanjungan. Ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit lain yang berkuasa. Demikian pula mahasiswa, ia akan senantiasa turun memperjuangkan kebenaran dan keadilan, ketika mahasiswa telah memenangkan perjuangan itu, maka ia akan kembali ke horizon tersebut yang bernama kampus, masuk ke ruang-ruang kelas dan belajar menjadi mahasiswa pada umumnya. Itulah esensi dari keberadaan mahasiswa, ia berjuang tanpa pernah mengharapkan suatu imbalan. Mahasiswa senantiasa menempatkan dirinya sebagai generasi pelurus bangsa, bukan sekadar penerus bangsa. Mahasiswa senantiasa bergerak atas dasar moral (moral force) yang hitungannya adalah benar dan salah bukan soal untung dan rugi.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, ketika hari ini detik ini, kita telah memiliki kesempatan untuk menjadi seorang mahasiswa, perjuangan seperti apakah yang akan kita adakan pada sang diri? Perjuangan untuk melawan sistem kapitalisme yang dihadapi oleh negarakah? perjuangan untuk melawan ketidak merataan pembangunan di daerah asalkah? atau perjuangan atas rasa tidak nyaman yang terjadi di lingkungan terdekat kita yaitu kampuskah?. Saya berharap bahwa kita bisa memurnikan diri dalam setiap langkah perjuangan yang akan kita ambil, tetapi yakinlah bahwa kampus sebagai miniatur peradaban haruslah menjadi titik awal perbaikan. Mari mulai menengok keadaan kampus kita masing-masing di fakultas, jurusan, hingga ruang kelas. Sudahkah semuanya baik-baik saja?

Budaya Diskusi Mahasiswa Udayana
Budaya Diskusi Mahasiswa Udayana

Dari sisi fisik, sudahkah air conditioner (AC) berfungsi dengan baik? Sudahkah LCD dan proyektornya dapat beroperasi dengan baik? Sudahkah toiletnya berpihak pada rasa kemanusiaan? Sudahkah kendaraan kalian mendapatkan tempat untuk parkir? Sudahkah atap, dinding, dan lantai gedungnya memberikan rasa aman? Masihkah kursi dan mejanya sehat? Sudah nyamankah ruangannya untuk kalian mengikuti pembelajaran di kelas?

Dari sisi birokrasi. Sudahkah kampus menjadi ladang untuk berdemokrasi bukan penghasil tirani? Sudahkah prosedur peminjaman ruangan mengutamakan prinsip pelayanan? Sudahkah segala keputusan dan kebijakan yang diambil berdasarkan kajian ilmiah/nalar (fakta dan logis) bukan karena teriakan otoritas yang bersumber dari ketakutan? Sudahkah semuanya bersinergi atau berjalan sendiri-sendiri seakan-akan merasa paling tinggi?

Sang Aktor
Sang Aktor

Dari sisi atmosfer akademik dan kemahasiswaan. Sudahkah kita datang tepat waktu untuk menerimaan pembelajaran? Sudahkah kita menyiapkan diri untuk menerima pembelajaran? Sudahkah kita berpakaian dengan cara berkeadaban? Sudahkah kita berdiskusi tentang hal-hal yang menyangkut tentang disiplin ilmu yang kita miliki atau bahkan tentang multi disiplin ilmu? Sudahkah kita pernah mencoba untuk mengikuti suatu ajang perlombaan? Sudahkah kita memikirkan tentang hal yang lebih besar yaitu kemajuan peradaban? Sudahkah kita sering mendiskusikan tentang situasi politik saat ini? Sudahkah kita berbicara lantang tentang nasib dari para kaum tertindas?

Dari semua pertanyaan itu, sudahkah semua terjadi di dalam kampus kita tercinta ini dan yang paling penting, sudahkah kita mengambil peran sebagai aktor bukan sekadar pengamat atau penonton di dalam mewujudkan jawaban agar semua pertanyaan itu jawabannya menjadi sudah? Jika jawabannya iya bahwa kawan-kawan telah mengambil peran. Terima kasih atas dedikasi dan perjuangan yang luar biasa tersebut. Jika belum, mari bersama-bersama, saling bahu-membahu mewujudkan itu semua. Saya pribadi merasa belum mampu mengambil peran sebagai aktor maupun inspirator kebaikan agar semua pertanyaan tersebut di atas terjawab sudah. Ketika hari ini Saya dan kawan-kawan belum mampu untuk menjadi emas, mari berusaha untuk tidak menjadi karat di dalam tubuh suatu besi.

Ikrar Mahasiswa Udayana
Ikrar Mahasiswa Udayana

Jika kawan-kawan merasa tidak nyaman dengan kondisi hari ini, mari suarakan untuk perubahan yang lebih baik dengan cara yang tidak hanya baik tetapi juga benar. Mari satukan suara, mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan! Sampai jumpa di diskusi-diskusi tentang permasalahan kampus, kebangsaan, dan kemanusiaan, bersiaplah untuk turun bersama jika sudah saatnya. Mari tunjukkan kepedulian itu lewat peran nyata, komitmen dan kerja keras. Kampus dan organisasi kemahasiswaan membutuhkan tenaga, pikiran, kemauan, kerja keras, dan semangat rela berkorban dari kalian semua. Bergabunglah para mahasiswa progresif dalam perjuangan tak bersyarat ini! Sudah terlalu lelah kita terpecah, ayo perjuangkan hak kita bersama-sama, wahai Sang Aktor!

“Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan”

M.T. Zen.

Salam hangat!

 

 

                                                     Denpasar, 4 September 2017

                                                 Dari mahasiswa yang mulai merasa tua oleh kebiasaan

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *