Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat
Surat untuk sahabat

 

 

 

 

 

 

Dear sahabatku Kodrat dalam dimensi waktu yang begitu cepat.

Hai Sahabat, mungkin ini adalah surat pertamaku yang datang begitu terlambat. Namun percayalah bahwa rasaku padamu begitulah kuat, ia hadir dalam busana kasih sayang yang saling mengikat.

Sahabat, hari ini aku ingin mencurahkan semua kerinduan yang mencuat. Semoga jarak bukan menjadi penyekat maupun penghambat. Sungguh aku tulus ingin berbagi denganmu sahabat.

Tepat tiga tahun sudah lamanya, kita berada dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Tepat tiga tahun pula, kita pernah berjanji bahwa akan saling mengingat meski tidak saling melihat. Tepat tiga tahun yang lalu, engkau pernah mewanti-wanti bahwa dunia perkuliahan tidak seindah dan semudah cerita di televisi. Berkuliah adalah ibaratkan seperti cerita Sun Go Kong dan Biksu Tong yang sedang mencari kitab suci, penuh dengan nestapa dan tragedi. Tetapi engkau pula selalu menimpali, bahwa berkuliah juga sama berarti dengan perjalanan mencari kitab suci.

Hari ini adalah kuliah perdanaku di semester tujuh, yang kurasa sudah cukup jauh jarak yang tertempuh. Ingin rasanya aku berhenti sejenak, mengelap peluh yang mengalir di sekujur tubuh. Sudah begitu lama aku berlari, saatnya untuk menepi menikmati rasa sepi dalam perenungan sang diri. Sahabat, di kisah perjalanan yang hampir sampai ini aku bertanya, apakah arti dari semua ini? Apakah tujuan dari semua ini? Mengapa kuliah terasa semakin memenjarakan sang diri dari hal yang bersifat kodrati?

Sungguh aku tersesat wahai sahabat. Mengapa kampus malah menjadi tembok tinggi yang menghalangi, antara kami dan si pak tani. Padahal kita semua mengetahui, bahwa mahasiswa-mahasiswi tidak akan bertahan hidup tanpa kehadiran pak tani. Mengapa kaumku begitu jahat dan bejat, sahabat? Kaumku telah banyak terjual meski berstatus sebagai intelektual.

Ilmu, jiwa, dan raga menjadi mahasiswa-mahasiswi, seakan-akan sengaja diisi untuk jadi faktor produksi. Aku merasa akan menjadi seperti kue dalam cetakan yang siap dihidangkan untuk orang-orang yang tak berperasaan. Sungguh aku bertanya dari dasar hati, dimanakah tujuan pendidikan untuk memuliakan itu lagi? Dimana kata ‘lawan sastra ngesti mulia’ itu lagi? Sungguh aku keheranan ketika semua perasaan menganggap ini bagian dari tuntutan zaman.

Sahabat, di dalam nurani yang semakin pekat. Setelah aku menyaksikan miniatur peradaban itu menghasilkan hidangan untuk kaum yang tak berperasaan, ada lagi hal-hal lain yang tidak kalah memilukan. Kaumku telah banyak dilumpuhkan dan dibutakan. Kaumku tidak lagi dapat melihat, mendengar, dan merasakan jeritan kesakitan pak tani atas ketidakadilan. Kaumku telah terlampau sibuk hingga membusuk oleh diktat-diktat yang begitu berat dan penuh karat.

Di akhir surat ini, aku ucapkan terima kasih yang terdalam karena engkau telah sudi meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritaku yang menjemukan. Mohon maaf jika aku terasa seperti bayi cengeng yang merengek meminta susu, tetapi percayalah bahwa aku sedang mencoba untuk menjadi manusia yang merdeka. Salam hangat sahabat di dalam kisah yang tidak akan pernah tamat. Semoga aku, kamu dan kita semua tidak mengingkari eksistensi sebagai mahasiswa-mahasiswi, pemuda-pemudi dan manusia yang hakiki.

 

Sahabatmu

Si Kecil Beruntung yang sedang linglung

 

 

NB: tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia tentang perasaan kuliah perdana di Semester 7.

2 Replies to “Untukmu Sahabat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *