Memaknai Hari Pahlawan
Memaknai Hari Pahlawan

Lama sekali sudah rasanya aku tidak menulis, ada suatu alasan besar yang melatarbelakangi itu semua dan sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan selama ini yang membelenggu, bahwa ternyata aku telah salah menduga. Ternyata bukan masalah waktu yang membuat seseorang kadang menunda untuk menulis, tetapi lebih kepada krisis wacana yang membuat seseorang enggan untuk menumpahkan perasaan lewat tulisan, setidaknya itu yang aku rasakan selama kurang lebih dua bulan ini.

Tetapi hari ini ada sebuah dorongan kuat yang membuatku berhasrat lagi untuk mengeluarkan tulisan, semoga tulisan ini dapat menjadi sebuah narasi kebaikan di tengah-tengah banyaknya persoalan yang sedang menggerogoti bangsa ini. Hari ini, tepat tanggal 10 November yang merupakan hari pahlawan, aku akan mengemukakan sedikit pandanganku. Bukan sebuah tulisan yang mengglorifikasikan generasi masa lalu dan mengkerdilkan peranan generasi kita saat ini untuk membangun negara. Sungguh aku sadar betul bahwa menyampaikan sesuatu untuk tujuan positif tetapi dengan pesan negatif adalah suatu kesia-kesiaan.

Hari ini aku ingin menulis tentang generasi kita, ya benar generasi kita. Kalau boleh mengutip istilah yang dipakai oleh William J. Schorer melalui situs socialmarketing.org, beliau menamai generasi kita dengan istilah generasi post millenial, generasi Z, generasi digital dan lain sebagainya. Sungguh labeling itu mengandung sebuah isyarat, sebuah amanat yang sangat terhormat, bahwa ke depan, pada saat puncak bonus demografi yang kan melanda negeri ini kurang lebih di tahun 2028-2030. Generasi kita akan memegang kendali yang besar untuk kemajuan peradaban.

Mampukah kita bersaing? Mampukah kita menjemput bola emas yang berisikan jutaan keluh-kesah, harapan, dan juga cita-cita besar dari masyarakat di republik ini? Sanggupkah kita membangun negara yang dimana pondasinya dibuat dari iuran nyawa para pahlawan kusuma bangsa? Sekali lagi, beranikah kita?

Sungguh saya sangat yakin, ketika pertanyaan ini diutarakan kepada generasi kita, akan ada beraneka ragam tanggapan dari kita. Ada yang akan langsung mengatakan “tidak mungkin bisa”, lalu mengeluarkan segala jenis hipotesa yang mendukung dan jelas sudah pasti komentarnya seolah-olah ia bukan bagian daripada generasi ini. Ada juga yang akan menjawab dengan mantap ditimpali optimisme yang tinggi, “pasti generasi kita mampu”. Lalu ketika ditanya alasannya, optimismenya seakan-akan mengalami kebutaan. Terlihat begitu gagah di luar, tetapi begitu kering tanpa keyakinan di dalam. Atau mungkin ada yang kan menjawab dengan santai “bila Tuhan berkehendak, semua pasti akan terjadi”. Hmmm sungguh jawaban yang begitu religius. Seolah-olah Tuhan akan mencarikan jalan pintas untuk kita. Sungguh aku sangat yakin tentang eksistensi dan kuasa tak terbatas dari Tuhan, tetapi aku lebih yakin lagi bahwa Tuhan menghargai keputusan kita dalam menentukan takdir kita masing-masing.

Tetapi sebelum kita berdebat panjang tentang jawaban itu, ada baiknya kita kembali pada dimensi hari ini, ya benar. Kita kembali pada generasi kita tepat di masa sekarang ini. Mari kita berbicara tentang dinamika yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak dapat dipungkiri semenjak terjadinya kemajuan di bidang teknologi informasi, kita seakan-akan mengalami kebingungan informasi (terlalu banyak informasi) dan hal ini diperparah lagi bahwa sanya informasi yang kita terima sering kali mengalami pertentangan. Sehingga tidak mengherankan, mengapa banyak terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat tentang suatu persoalan, pendirian mereka sangat bergantung dari seberapa banyak informasi pro atau kontra yang diterima.

Dunia mahasiswa pun senantiasa menghadirkan pro dan kontra di dalam dinamikanya. Hal ini tentu merupakan suatu keniscayaan, mengingat mahasiswa merupakan kumpulan manusia-manusia beruntung yang mendapat kesempatan untuk mengasah kepalanya. Jelas otak merupakan sumber koordinasi yang di dalamnya tersimpan tentang, persepsi, obsesi, kepercayaan, sistem keyakinan dan lain-lain yang sangat menentukan seperti apa sesorang itu dalam menanggapi suatu keadaan.

Berbicara mengenai kehidupan mahasiswa, maka sudah barang tentu kita tidak asing lagi dengan istilah mahasiswa kupu-kupu, kuda-kuda, kura-kura, kunang-kunang, kucing-kucing, kutu kupret, kusut-kusut, kuman-kuman, kue-kue dan lain sebagainya. Sungguh aku menganggap itu lebih sebagai pilihan hidup, bukan untuk diperdebatkan apalagi untuk dipertentangkan dicari mana yang lebih baik dalam membawa bangsa ini kedepannya. Pasti masing-masing dari kaum ini memiliki dasar yang sama kuat di dalam memberikan penjelasan kenapa golongan mereka lebih pantas disebut pilar peradaban alias tulang punggung kemajuan bangsa.

Kendati pun aku bagian dari salah satu golongan, aku tidak akan mengatakan bahwa golonganku lah yang paling pantas disebut sebagai generasi pelurus bangsa, karena aku sadar negeri ini terlalu besar jika dibangun berdasarkan satu keyakinan golongan saja. Inilah alasan utama mengapa aku ingin menulis. Sungguh fanatisme yang terbangun selama ini, membuatku benar-benar muak. Aku menulis ini tepat di momentum hari pahlawan, sebagai pengingat bahwa musuh bersama kita adalah keserakahan wajah baru yang dulu dikenal berjubah kolonial dan musuh sejati kita adalah kesombongan diri sendiri.

Mahasiswa organisatoris
Mahasiswa organisatoris

Bagaimana tidak, ketika kita meyakini bahwa mengabdi di dunia organisasi kemahasiswaan adalah jati diri seorang mahasiswa, kita bangga dengan slogan perjuangan dan pengabdian itu. Siang malam kita berkutat dengan dunia itu. Melakukan pekerjaan tanpa pernah dibayar, bekerja dengan semangat ‘ngayah’, perlahan-lahan mulai timbul tembok nan gelap yang mempertanyakan dimana golongan mahasiswa yang lain. Dimana mahasiswa dagang itu? Kok masih muda sudah hitungannya untung-rugi. Dimana mahasiswa kutu buku dan ilmiah itu? Kok sering mengikuti lomba seantero negeri tetapi ketika diajak diskusi tentang permasalahan sosial, apalagi diajak membuat kajiannya, malah kabur sakit gigi. Lalu dimana golongan mahasiswa yang suka nangkring itu? Hobinya jalan-jalan dan nongkrong, ketika diajak turun ke jalan memperjuangkan hak-hak kaum terpinggirkan, kok malah pura-pura ketiduran dan akhirnya kelupaan.

Mahasiswa Saintis
Mahasiswa Saintis

Begitu pula ketika kita meyakini bahwa menjadi mahasiswa berprestasi dengan memenangkan banyak lomba bergengsi adalah jawaban yang dibutuhkan oleh negara dari generasi mudanya. Kita mulai yakin bahwa bangsa ini hanya dapat dibangun berdasarkan kecerdasan dari generasi mudanya. Mulai tumbuh tembok tinggi yang membatasi. Kaum ini mulai melihat bahwa aktivis mahasiswa yang gembar-gembor di jalan adalah sebuah kesia-siaan, menghabiskan energi, waktu dan juga sekaligus memalukan. Mahasiswa dagang dianggap terlalu oportunis dan sering mengabaikan reputasi akademiknya demi uang, uang, dan uang. Sungguh itu semua menjijikan. Lalu mereka juga menganggap bahwa mahasiswa yang hobi nangkring hanya suka berfoya-foya menghabiskan uang orang tua.

Mahasiswa Pebisnis
Mahasiswa Pebisnis

Begitu pula ketika kita memilih jalan menjadi mahasiswa bisnis sebagai lentera jiwa kita. Kita mulai berkeyakinan bahwa Indonesia akan maju karena jiwa wirausaha para generasi mudanya. Kondisi ekonomi adalah faktor utama kemajuan bangsa dan ekonomi Indonesia hanya dapat dibangun melalui kewirausahaan. Sungguh persetan dengan golongan mahasiswa organisasi yang menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak penting, toh juga mereka setelah lulus akan merengek melamar kerjaan. Omong kosong dengan IPK dan prestasi lomba-lomba, toh juga setelah tamat semua itu tidak ada artinya. Ah mahasiswa suka nangkring? Mereka tidak pernah tahu beratnya cari uang, mikir dong.

Mahasiswa Nangkringis
Mahasiswa Nangkringis

Ketika kita menetapkan hati untuk menjadi golongan mahasiswa yang doyan nangkring. Kita mulai membangun sistem kepercayaan, bahwa relasi yang kuat, keluwesan dalam bergaul, dan stay up to date dalam fashion merupakan modal penting untuk mengembangkan karir. Mulai terpupuk benih negatif dalam melihat golongan yang lain. Mahasiswa organisatoris seakan-seakan terlihat begitu serius, retoris, dan tidak menarik. Mahasiswa-mahasiswa ilmiah terlihat begitu kaku dan kurang bergaul karena kerjaannya baca buku melulu. Ah mahasiswa pebisnis tidak akan bisa mengembangkan bisnis menjadi besar nantinya karena tidak ditopang oleh sikap fleksibel dan jaringan yang kuat seperti kaum kunang-kunang ini.

Begitulah seterusnya paradigma yang terbangun. Jadi, kita bagian dari yang mana? Organisatoriskah? Saintiskah, Pebisniskah? Hobi nankringkah? Kombinasi dari semuanya kah? Atau mungkin jenis yang lain lagi? Aku rasa tidak ada yang salah memilih mau jadi jenis yang mana, tetapi akan sangat menakutkan jika kita merasa paling benar dan orang lain hanya pelengkap kehidupan atau bahkan kesia-sian hingga penghalang daripada kemajuan peradaban, istilah Bung Karno bilang uber alles alias chauvinistis. Sungguh hal ini akan sangat membahayakan. Berbahaya bagi keberadaan diri sendiri, orang lain, dan juga kepentingan umum.

Namun ada lagi satu jenis golongan yang begitu unik, mereka sama sekali tidak mewakili golongan manapun dan mereka condong tidak menyukai semua golongan. Ketika mereka melihat berita mahasiswa demo, mereka berkomentar sinis bahwa semua itu tidak ada gunanya, buang-buang energi saja. Bikin jalanan macet dan tidak memberikan solusi. Ketika mereka melihat organisasi banyak mengadakan event-event, mereka bilang EO, seolah-seolah EO selalu negatif. Ketika mereka melihat seseorang juara lomba ilmiah mereka akan dengan cepat bilang, ah karyanya hanya di atas kertas, tidak berguna jika diterapkan kepada masyarakat. Ketika melihat mahasiswa berbisnis, mereka berkomentar negatif mengatakan bahwa mahasiswa seperti itu akan menjadi pengusaha, kaum kapitalis yang akan menggerogoti bangsa ini kelak dengan modalnya yang besar. Mereka akan membunuh para wong cilik. Ketika mereka melihat mahasiswa yang kerjaannya kuliah nangkring, kuliah nangkring. Mereka akan langsung menjudge bahwa manusia-manusia seperti ini akan segera musnah jika orang tuanya sudah tiada. Sepeti itulah mahasiwa ini melihat keberadaan golongan lain.

Sampai di sini aku berkomentar tentang golongan yang terakhir ini. Aku lebih suka melihat dari sudut pandang yang lain. Pernahkah kita berpikir untuk melihat dari sudut pandang positif tentang semua ini? Ketika melihat mahasiwa organisasi mendedikasikan dirinya dalam urusan organisasi kemahasiswaan hingga sering terlambat dalam mengerjakan tugas kuliah. Mereka bekerja siang malam di Sekre tanpa pernah dibayar. Pernahkah kita bertanya mengapa mereka bisa seperti itu? Selain kita berpikir bahwa mereka tidak punya kerjaan. Bukankah bisa saja mereka melakukan itu karena pernah mengalami luka masa lalu. Entah luka karena pernah mengalami kesepian di masa lalu, merasa miskin kontribusi, tidak mempunyai lingkungan yang mau menerima, merasa salah jurusan karena dulu dipaksa oleh orang tua sehingga mereka memilih organisasi sebagai pengalih kekecewaan dan komunitas kehidupan mereka. Pernahkah kita mencari tahu apa yang menjadi main purpose dari hidup mereka, sehingga mereka bertindak sedemikian ekstrem melupakan kepentingan diri sendiri.

Lalu pernahkah kita bertanya, mengapa ada mahasiswa yang sering turun ke jalan, kerjaannya baca buku perjuangan dan perlawanan dan senantiasa mengkritisi segala keadaan yang dirasa kurang berpihak kepada kemiskinan. Pernahkah kita berpikir seperti apa masa lalu mereka? Tidakkah tindakan yang mereka lakukan didorong oleh kepedihan masa lalu, entah mereka melihat penindasan dan penghisapan yang terjadi di sekitar mereka atau bahkan mereka korban daripada penggusuran atas nama pembangunan. Apakah kita pernah benar-benar pernah mencari tahu, atau setidaknya menggunakan logika kita untuk menerawang isi hati mereka. Atau kita sudah begitu terbelenggu oleh pemikiran bahwa mereka aneh dan anti sosial.

Ketika kita melihat mahasiswa yang selalu juara lomba, debat, karya tulis dan lain sebagainya. Pernahkah kita berpikir mengapa mereka bisa seperti itu? Apa yang telah mendorong mereka bertindak seperti itu? Akankah karena trauma masa lalu karena diejek bodoh, autis, idiot dan lain sebagainya menjadi sumber kepedihan yang membuat mereka tuk memilih menjadi manusia yang unggul dari sisi akademis di masa depan. Atau mungkin karena mereka ingin menjadikan prestasi tersebut sebagai modal untuk menghadapi dunia luar yang begitu keras dan tak tentu arah. Pernahkah kita benar-benar berempati kepada mereka? Sebelum kita menjudge mereka PI (penting iba) dan kutu buku.

Ketika kita melihat mahasiswa yang kerjaannya jualan mulu, atau mungkin kerja paruh waktu dan sering terlihat tidak bergairah dalam kelas. Apakah kita pernah bertanya mengapa di saat muda seperti ini, mereka menghabiskan waktu untuk itu. Tanpa kita sadar, bahwa tidak semua manusia di negeri ini kaya. Bisa saja mereka melakukan itu karena mereka berkuliah dengan uang sendiri. Bisa jadi kepedihan melihat kondisi ekonomi keluarga yang membuat mereka harus jengah dan berwirausaha sedini mungkin. Atau semangat untuk membuka lapangan pekerjaan yang membuat mereka bertindak sejauh itu.

Ketika kita menyaksikan fenomena banyak anak muda kerjaannya di warung kopi, cafe, mall dan lain sebagainya dan menganggap mereka hedon dan hanya bisa menghamburkan duit orang tua. Bisa saja mereka sedang endorse suatu produk. Bisa saja mereka menggunakan uang hasil keringat mereka sendiri dalam bergaul. Bisa saja mereka mengalami broken home sehingga perlu teman nongkrong untuk mengisi kekosongan hati mereka.

Sungguh sangat berbeda rasanya ketika kita mampu melihat sudut pandang yang lain. Tidak hanya melihat sebuah golongan dengan cara berdiri di atas pandangan golongan lain, tetapi lebih melihat ke dalam mereka langsung dan menghilangkan jarak yang menghalangi. Sungguh kita dapat melihat alasan-alasan utama yang mendorong mereka mengapa memilih menjadi salah satu golongan. Dan pada akhirnya kita akan sadar bahwa setiap jenis dari golongan itu memainkan perannya masing-masing.

Mahasiswa yang berdemo ternyata mampu mengubah aturan atau keadaan yang sedang tidak beres dengan cara upaya penekanan terhadap elite penguasa. Jikapun upaya ini terlihat sia-sia karena tidak langsung membuat keadaan berubah, tentu kita tidak boleh menjudge itu tidak berguna. Toh dulu sebelum Indonesia merdeka tahun 45, banyak perjuangan dan perlawanan terlihat begitu sia-sia karena kuatnya cengkaraman kaum imperialis. Sungguh sangat mudah untuk menjadi skeptis dan apatis. Kenapa kita tidak ubah pertanyaannya menjadi, kalau bersuara saja tidak didengar, apalagi diam?

Mahasiswa yang mengikuti lomba-lomba khusunya di bidang pengembangan kesejahteraan masyarakat, ternyata mampu menemukan mesin alternatif untuk meningkatkan kualitas produksi petani. Mahasiswa pebisnis ternyata mampu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, sehingga ikut berkontribusi mengurangi penggangguran. Ternyata mahasiswa yang hobinya doyan nangkring, memiliki jaringan relasi yang kuat sehingga mau membangun gerakan sosial donation movement kepada korban suatu bencana. Sungguh semua ini terlihat begitu keren.

Apalagi jika semuanya memilih untuk bekerja bersama ketimbang terus menerus memaki keberadaan satu sama lain, sungguh itu akan menjadi ide yang sangat brilian. Seandainya mereka semua kompak mengerjakan suatu kebaikan yaitu kepentingan masyarakat secara bersama. Para golongan ilmiah fokus menggunakan kemampuan ilmiahnya untuk memberikan analisis dan kajian terhadap permasalahan aktual yang terjadi di tengah masyarakat sebagai landasan untuk bergerak atau bersikap. Kaum organisatoris-aktivis memobilisasi massa dan melakukan propaganda. Mahasiswa nangkring menggunakan jaringannya yang luas untuk mewarnai gerakan dan menbuatnya viral dengan gaya sekarang. Mahasiswa pebisnis membantu support logistik dan lain sebagainya. Sungguh akan menjadi sesuatu yang indah.

Kapan semua itu terjadi? Akankah semua itu akan terjadi. Aku meyakini bahwa semua itu dapat terjadi dan akan terjadi dengan satu syarat, bahwa ada musuh bersama diantara mereka. Hanya dengan musuh bersamalah kita dapat bekerja bersama-sama secara nyata dan bergairah. Tanpa itu mustahil rasanya semua itu dapat terjadi. Namun sebelum memiliki musuh bersama, penting sekali sedianya jangan sampai kita memusuhi sesama. Toh mereka yang berbeda dalam golongan adalah sama dalam kemahasiswaan. Toh mereka yang berbeda golongan adalah saudara dalam kemanusiaan.

Diakhir daripada tulisan yang panjang ini, saya sangat berharap bahwa kita semua telah mampu memilih berada di jalan yang mana secara penuh, tidak setengah-setengah apalagi setengah hati. Bukankah seseorang dikenal karena totalitasnya, bukan sekadar ada. Buat apa aktif di organisasi, ilmiah, bisnis, nongkrong dan lain-lain jika hanya setengah-setengah. Jadilah total cukup di satu bidang, jika ingin ikut di bidang lain, pastikan itu adalah bentuk kontribusi sederhana saja. Jangan merasa semua seolah-seolah bisa dilakukan. Ingat kita ini mahasiswa bukan mahadewa. Kemampuan kita terbatas.

Ketika kita sudah memutuskan untuk berlabuh di salah satu golongan. Jangan sampai menjadi organisatoris uber alles, saintis uber alles, pebisnis uber alles, nangkringis uber alles. Apalagi sesama bekerja di organisasi kemahasiwaan menyerang organisasi kemahasiswaan yang lain, karena bebeda ladang dalam berkontribusi. Sungguh di hari pahlawan ini kita harus membangun kesadaran kembali, bahwa kita tidak akan merdeka jika hanya menghandalkan satu golongan saja. Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes tidak akan ada artinya jika dibandingkan dengan Jong Indonesia. Dan terakhir, apapun pilihan kita, pastikan itu setidak-tidaknya dapat berguna untuk orang banyak alias kepentingan umum. Berorganisasi untuk kepentingan bersama, berjuang untuk kepentingan masyarakat, manjadi masyarakat ilmiah untuk kepentingan masyarakat, berbisnis untuk kepentingan masyarakat, nangkring lalu akhirnya memberikan kontribusi untuk masyarakat. Sungguh sesuatu yang menakjubkan. Mari rangkai cerita kepahlawanan kita sendiri. Salam hangat!

Sumber gambar:

1. https://nasrul09.files.wordpress.com/2014/11/10-november.jpg

2 dan 3 di Akun Instagram BEM PM

4. https://www.anekawisata.com/wp-content/uploads/2016/02/tempat-nongkrong-asik-di-semarang.jpg

One Reply to “Sebuah Tulisan Sederhana di Hari Pahlawan: Mahasiswa, Ayo Kita Buka Mata!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *