Suasana TPS di Teknik Sipil
Suasana TPS di Teknik Sipil

Semoga ada yang sudi membaca tulisan panjang ini dan setelah itu berkenan untuk menjadi pelaku perubahan yang memiliki mental sekuat baja dalam melawan resistensi terhadap perubahan.

Di balik lamanya sikap diam saya terhadap pelaksanaan PEMIRA ini, hari ini tepat di hari pencoblosan, bara dalam sekam itu tidak dapat saya sekap lagi, dia meronta-ronta dan tak terkendali.

Sebelum masuk ke inti tulisan, saya ingin mendeklarasikan, bahwa:

Panitia yang kecapekan kerena telah bekerja keras untuk pelaksanaan Pemira
Panitia yang kecapekan kerena telah bekerja keras untuk pelaksanaan Pemira
  1. Tulisan ini bukanlah untuk mengkritik secara ekstrim siapapun yang terlibat dalam dosa ini. Ini adalah sebuah tulisan yang belajar dari pemikiran Aristoteles bahwa sikap bermoral adalah sikap tengah. Ini adalah tulisan yang mengambil jalan tengah. Saya menyadari betapa capeknya panitia khususnya anggota-anggota yang telah menyiapkan semuanya ada. Mereka adalah pahlawan sesungguhnya PEMIRA. Terima kasih untuk dedikasi kalian untuk berjalannya demokrasi mahasiswa di Udayana.
  2. Curhatan ini mengharapkan bertemunya dia dengan sisi-sisi diskursus, sisi-sisi keinsafan, dan sisi-sisi perbaikan. Sehingga nantinya kita lebih banyak menemukan tulisan yang membangun bukan angkuh terhadap kecerdasannya dan mengoyak setiap kritik yang ada.
  3. Tulisan ini bukanlah sebuah nyinyiran atau kritik tanpa solusi, apalagi menyalahkan siapapun. Biarlah kesalahan ini ditunjukkan kepada api dan angin. Api yang tak dapat membakar dan angin yang tak dapat membawa rasa panas itu, sehingga kita enggan untuk berubah. Saya adalah pengamat sekaligus pelaku Pemira selama kurang lebih 3 tahun belakangan ini. Saya ada dibalik dosa ini, sungguh kerongkongan saya telah kering untuk menyampaikan kritik dan solusi tiap tahun.

Mohon izin Hyang Semesta hari ini aku berkeluh kesah sejadi-jadinya. Sekaligus juga menjawab pertanyaan teman-teman Maba kenapa aku bisa berpidato seperti itu, jujur aku hanya berusaha untuk menyampaikan isi hatiku setiap kali aku diberikan kesempatan, begitu pula saat menulis. Itu saja.

[Curhatku]

Storygramku di akun Instagram
Storygramku di akun Instagram

Presma mana yang tidak sedih ketika melihat kritik tak berperasaan datang dari akun yang tak dikenal menyerang membabi buta kegiatan sakral ini, tanpa ia pernah tahu seberapa pilu nurani ini berjuang agar kegiatan ini ada. Aku yang terus menerus pagi, siang, malam, bahkan tengah malam meyakinkan para tunas muda untuk mau mengambil tanggung jawab itu, berharap ada 5 pasang calon Presma dan wakilnya dari luar BEM PM agar semakin berwarna lembaga ini kedepan, harus menelan pil pahit karena terbentur restu orang tua. Sungguh aku pun tidak akan sanggup melawan restu orang tua, ia ibarat 90% syarat cerita kemenangan PEMIRA. Akhirnya hanya ada 2 pasang calon dan itupun semua dari BEM. Kalau bukan dari tunas muda BEM ini yang nyalon, akankah PEMIRA dapat TERLAKSANA? Akankah kritikus itu bisa memproduksi wacana? Akankah kita mengharap pada generasi nyinyir itu yang terus menerus mengatakan BEM adalah oligarki politik.

Seakan-akan mencalonkan diri sebagai Capresma-Cawapresma ibarat seperti pemilihan Capres-Cawapres RI yang harus ada kendaraan politik dan juga aturan terbaru melewati syarat Presiden Threshold-nya. Sungguh miris, jika kau punya kemampuan seharusnya kau kendalikan bahtera ini, Bung dan hadapi gelombangnya!

Presma mana yang tidak pilu ketika sedari awal terus-menerus berkoordinasi agar timeline PEMIRA jangan sampai terlalu maju agar tidak menggangu kepengurusan yang sedang berlangsung. Ujung-ujungnya surat permohonan koordinasi dirobek tanpa perasaan, rekomendasi pada saat sosialisasi PEMIRA hanya jadi formalitas belaka, aku merasa dikangkangi keangkuhan yang menghancurkan itu. Dan sungguh hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana sepinya PEMIRA tahun ini akibat benturan informasi antara kegiatan BEM dengan kampanye mereka. Padahal tim sukses dan relawan telah menyuguhkan hal yang terbaik, semoga mereka sudi memaafkan dosa angin dan api.

Presma mana yang tidak sakit hati, melihat adik-adiknya yang berjuang sepanjang bulan ini untuk menyuguhkan gagasan harus dirugikan oleh pelaksanaan debat yang mohon maaf kenapa harus dilaksanakan pagi. Sungguh saya pun bersepakat lebih memilih kuliah ketimbang nonton debat, apalagi ini adalah bulan-bulan kritis, jatah bolos pasti sudah habis. Kalau titip absen malu sama gerakan Hii Ogah yang digagas oleh anak-anak Ilmu Sosiologi. Andaikan debat dilaksanakan seperti PEMIRA 2014 pada saat Clara Listya Dewi nyalon, saya yakin layar tancap itu mungkin jadi kenyataan.

Penyebaran informasipun tidak bagus, coba lihat berapa followers akun KPRM dan bagaimana mereka mengelola informasi. Sekali lagi saya bukan meremehkan tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan panitia, saya sangat mengapresiasi itu. Saya pun sebagai Presma turut serta juga share informasi, meski sakit hati itu masih ada, egoisme manajamen atas mereka yang tidak mau minta tolong untuk dibantu sebar informasi, akhirnya kalah oleh rasa sayang saya terhadap demokrasi ini. Bukan maksud mengglorfikasi diri. Silakan buat tulisan baru jika merasa ini tidak benar dan sebelum itu coba tanyakan apakah semua orang tahu bahwa hari ini ada pencoblosan? Terlepas mereka bakalan golput atau tidak.

Presma mana yang tidak merana melihat pengorbanan panitia dan saksi di tiap-tiap TPS yang dengan setia menunggu setiap insan yang hadir tanpa pernah bergeming dari tempatnya. Sungguh mereka luar biasa sekali, saya angkat topi untuk loyalitas mereka. Saya tahu mereka hanya korban dari egoisme kita.

Presma mana yang tidak tarintih, ketika menyaksikan sendiri pada saat pelaksanaan PEMIRA banyak bermunculan selebaran-selabaran untuk memproduksi wacana yang mengatakan PEMIRA tak berguna, PEMIRA hanya tentang pelegalan kekuasaan. Sungguh aku sulit sekali membedakan antara orang-orang idealis, kritis, dan pragmatis di sini. Mengapa mereka hanya suka muncul di saat ada gelombang.

Jika mereka memang punya kemampuan, sumber daya pendukung berupa aliansi yang siap tempur dan ditambah mereka menganggap calon-calon kurang kompeten dan berpotensi melanggengkan kekuasaan, lalu alasan apalagi yang membuat mereka tidak nyalon? Tidak salah jika mereka entah itu lawannya yang menyebut kalian sebagai kaum hipokrit.

Ayolah Bung, Udayana ini butuh sosok Bung yang berani mengambil peran yang lebih besar dari sekedar memproduksi wacana.

Sungguh masih banyak keluh kesah yang ingin aku sampaikan kepadamu Semesta, tetapi biarlah cerita-cerita yang lain tidak aku sampaikan menjadi bagian dari kepedihanku sendiri. Biarlah itu menjadi senjataku terkahir untuk memaksaku mengupayakan segala daya upaya di sisa-sisa kekuatanku untuk mewariskan dunia organisasi yang lebih baik lagi untuk generasi pelurus bangsa angkatan 2017.

Salam hangat dari mahasiswa semester 7 yang sedang mengejar deadline sidang KP lagi 3 hari.

Akhir kata,

“Demokrasi bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri. Tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsafan”  -Bung Hatta.

Begitu pula,

“Organisasi bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri. Tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsafan.”

Dan

“Mahasiswa Udayana bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri. Tetapi setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan keinsafan.”

Semoga kita dapat senantiasa belajar dari angin dan api.

 

 

 

Jimbaran, 27 November 2017

Berbicara dengan hati nurani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *