Kota Bekasi
Kota Bekasi

“Jika Anda lahir miskin, itu bukan kesalahan Anda, tetapi jika Anda meninggal miskin, itu kesalahan Anda.”  -Bill Gates

 

Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini adalah tentang pilihan, memilih diantara pilihan-pilihan yang ada. Saya pun bersepakat tentang ungkapan itu bahwa sanya hidup adalah tidak jauh-jauh soal pilihan. Tetapi ada yang kurang lengkap rasanya jika hidup ini hanya soal pilih-memilih.

Maka dari itu, saya melihat ada dua hal seperti kakak dan adik dari pilihan hidup yang kita sering lupakan, yang boleh jadi kalau kita belum menuntaskan dua hal ini, maka hidup adalah pilihan hanyalah suatu kesia-siaan. Kakak-adik itu saya beri nama MENERIMA;
1. Menerima sesuatu yang memang tidak bisa dipilih (ini kakak dari hidup adalah pilihan)
2. Menerima bahwa setiap pilihan membutuhkan perjuangan dan setiap perjuangan terkadang tersisip kesedihan dan tetesan air mata, ini adalah adiknya dari hidup adalah pilihan itu.

Mengapa saya katakan demikian, jawabannya sederhana saja tanpa harus dibuktikan dengan rumus regresi linier berganda dan lain sebagainya.

Oke langsung saja, let’s start with question. Terkadang hidup yang berkualitas, datang dari jawaban yang berkualitas, dan jawaban yang berkualitas bundanya adalah pertanyaan yang berkualitas.

Adakah dari kita semua dapat memilih seperti apa kita dilahirkan, kapan kita dilahirkan, oleh siapa kita dilahirkan, dimana kita dilahirkan, dan lain sebagainya. Apakah kita bisa memilihnya? Sekali lagi apakah bisa kita memilih sendiri takdir kita itu?

Perkembangan pengetahuan saat ini begitulah pesat, bahkan terkadang di luar nalar kita sendiri. Tetapi apakah para ilmuwan telah bisa menjawab mengapa seseorang dilahirkan? Mengapa seseorang dilahirkan oleh seseorang itu? Mengapa dia dilahirkan dengan kondisi seperti itu? Mengapa dia dilahirkan di tempat itu? Kalau tempat mungkin di jaman modern ini semua orang dilahirkan di rumah sakit, hehe. Tetapi kita juga tidak bisa memilih rumah sakitnya akan seperti apa, itu urusan orang tua kita masing-masing, kita bayi fokus lahir saja.hehe.

Adakah para ilmuwan dapat menjelaskan itu, kalau bahasa kerennya dapat menjelaskan itu secara ilmiah? Soalnya generasi kita adalah generasi ilmiah zaman now.

Jika tidak, maka dari itu saya menyebutkan ini sebagai kakak dari hidup adalah pilihan itu sendiri. Memang ada kenyataan tersendiri yang tak dapat kita pungkiri bahwa ada sesuatu yang tidak dapat kita pilih. Jika memang tidak ada pilihan, maka kita harus belajar untuk menerimanya. Daripada capek-capek menunggu ilmuwan untuk dapat menjelaskannya, mending terima dulu sambil menunggu jawaban dari para ilmuwan, hehe.

Kenyataannya bahwa kita tidak pernah bisa memilih seberapa kaya orang tua kita pada saat kita dilahirkan, kita tidak pernah bisa memilih seberapa tinggi status sosial orang tua kita, kita tidak dapat memilih di negara mana kita dilahirkan, kita tidak dapat memilih sesempurna apa dan seberapa imut kita dilahirkan, meski saya selalu melihat setiap bayi yang turun dimuka bumi ini sangat imut (jika dibandingkan setelah besar begitu amit-amit, hehe). Tetapi tetap saja kita tidak bisa memilih itu semua, apalagi memesannya dengan kendaraan online, wkwkwk.

Namun yang dapat kita lakukan adalah menerima, menerima, dan menerima semua kenyataan tersebut. Menerima kenyataan bahwa hari ini orang tua kita tidaklah sekaya Bill Gates. Tidak sebijaksana Ajahn Bram, dan lain sebagainya. Toh jika kelahiran dapat dipilih, tidakkah orang tua kita juga ingin memilih anak yang bisa jadi tidak seperti kita hari ini. Bisa jadi beliau juga menginginkan anak seperti Jeff Bezos, Chairul Tanjung, Jack Ma dan lain sebagainya. Sehingga orang tua kita tidak perlu repot-repot untuk memeras keringat setiap hari dan tak jarang menyeka air mata untuk memperjuangkan kita yang bisa jadi tidak pantas untuk diperjuangkan karena keinginan yang tadi. Sungguh sangat mulia orang tua kita itu.

Lalu bicara soal hidup adalah pilihan, ah saya tidak ingin berkomentar banyak soal ini. Biarlah ini menjadi pilihan kawan-kawan sekalian.

Saya lebih senang bicara bahwa pilihan selalu bertautan dengan penerimaan atas segala konsekuensi logis dari pilihan itu.

Ketika kita sudah mengetahui kenyataan bahwa ada sesuatu yang tidak bisa kita pilih dan kita berdamai atas itu semua. Lalu setelah itu kita mulai berfokus untuk melakukan pilihan. Maka ada satu kenyataan yang tidak dapat kita lupakan yaitu menerima untuk berjuang.

Teman-teman apa jadinya jika Thomas Alfa Edison tidak mau berjuang di dalam percobaannya yang ke 9.999 untuk meyakini bahwa lampu pijar itu benar-benar dapat menyala. Apakah kita dapat menikmati semua keindahan ini yang menjauhkan kita dari prasangka buruk karena tidak dapat melihat dalam kegelapan.

Teman-teman apa yang akan terjadi jika para founding fathers dan para pahlawan kita tidak berjuang di dalam merengkuh kemerdekaan, apakah manfaaf dari kemerdekaan dapat kita rasakan hari ini?

Lalu ketika kita tarik ke belakang nan jauh di sana. Ternyata ada orang-orang seperti Copernicus, Galileo Galilei, Aristoteles, dan lain sebagainya yang memilih mati demi memperjuangkan keyakinannya. Aristoteles lebih memilih dengan suka rela menelan racun sebagai hukumannya, meski sebenarnya beliau dapat memilih kabur dan menyelematkan diri ketimbang harus menenggak racun yang pasti akan membunuhnya. Tetapi kenyataannya beliau lebih memilih mati pada saat itu tetapi sumbangsihnya untuk ilmu pengetahuan abadi selamanya.

Jika hari ini kita takut berjuang atas segala pilihan-pilihan kita, masihkah kita berhak menyalahkan Tuhan untuk segala kekerdilan hidup yang kita rasakan hari ini?

Sekali lagi hidup ini adalah tentang menerima berjuang setelah pilihan dilakukan.

Untuk kalian yang mungkin saat ini merasa tersakiti karena telah memilih. Tetaplah bertahan.
Untuk kalian yang mungkin saat ini merasa terus menerus dicaci-karena memperjuangkan pilihan, teruslah tegak berdiri.
Untuk kalian yang saat ini menjadi pemimpin dan mengambil keputusan yang tidak populis sehingga orang-orang tidak mendukung. Yakinlah bahwa memang sudah jalannya kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang.
Jika hari ini kita merasa berjalan sendirian di tengah keramaian akibat memperjuangkan pilihan itu, maka teruslah seperti itu.
Jika kalian telah memilih untuk mengambil tanggung jawab lebih dan sering di dalam tanggung jawab itu kalian disalahkan dan dilemahkan. Tetaplah ikhlas, karena tidak semua orang sanggup dan memiliki kesempatan seperti itu.

Yakinlah bahwa sakit kita tidak seberapa jika dibandingkan dengan para pahlawan keabadian yang saya sebut tadi, maka tetaplah bertahan.

Selama pilihan kita bersandar pada nilai-nilai kebenaran selama itu pula kita harus tetap berjuang. Yakinlah wahai elang rajawali, kita akan segera sampai pada sinar bulan purnama itu. Semoga kita tidak mati miskin.
Salam hangat!

 

Bekasi, 15 Desember 2017

Nb: miskin di sini bukan hanya soal uang, bisa jadi miskin hati, miskin ilmu, miskin pengalaman, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *