Berdansa Bersama Putaran Sang Waktu
Berdansa Bersama Putaran Sang Waktu

Tulisan ini saya buat dan persembahkan untuk menyemangati diri saya sendiri dan juga teman-teman semua yang mungkin saat ini banyak menggunakan tubuhnya untuk beraktivitas, baik yang berguna maupun yang kurang berguna, baik yang produktif maupun tidak produktif, baik yang dilakukan sukarela maupun terpaksa. Yakinlah bahwa apapun aktivitas tersebut, pastilah memakai tubuh dan pikiran sebagai perantaranya.

Wahai kawan-kawanku yang hari ini mungkin sedang membaca buku, mabar mobile legend, ataupun sedang diskusi tentang investasi, isu sosial terkini, ataupun ngegossip tentang hal-hal yang viral akhir-akhir ini. Saya ingin berbagi sedikit cerita, bukan untuk menggurui apalagi mendoseni kalian semua. Tetapi lebih kepada keinginan sederhana untuk berbagi kebaikan lewat tulisan, kenapa tulisan, karena hanya ini saja yang saya rasa bisa saya lakukan (just give what you can do).

Kawan-kawanku sekalian, adakah dari kalian yang hari ini merasa waktu 24 jam yang ada terasa kurang untuk memenuhi segala aktivitas kalian? Meskipun waktu 8 jam untuk tidur itu sudah diambil setengahnya untuk memenuhi aktivitas, tetapi tetap saja terasa kurang, apakah sering terasa seperti itu rekan-rekanku? Terutama seperti kehidupan kawan-kawan di organisasi kemahasiswaan yang seperti bukan mahasiswa lagi tetapi mahadewa, semua hal dikerjakan, seakan-akan manusia tidak ada batasnya.

Rekan-rekanku sekalian, saya dan mungkin kalian semua percaya bahwa gunakanlah usia muda untuk bekerja keras, agar tidak menyesal dikemudian hari, ya saya yakin semua itu absolutely benar tak terbantahkan. Gunakanlah usia muda untuk belajar dengan giat untuk mengejar cita-cita. Namun saya di sini ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat sangat sederhana namun sering sekali terlupakan, karena memang dampaknya terkadang tidak selalu jangka pendek, bahkan seringnya adalah jangka panjang sehingga sering terabaikan.

Ya benar, yang saya maksud di sini adalah menjaga kondisi kesehatan. Sekali lagi menjaga kondisi kesehatan. Banyak dari kita semua menggadaikan kepemilikan kita terhadap tubuh ini untuk mengejar ambisi, keinginan, maupun angkernya kata yang bernama DEADLINE. Sering sekali tubuh hanya menjadi perantara untuk memenuhi keinginan, tanpa kita sadari ia bisa saja rusak dan tak berfungsi.

Kawan-kawanku, saya adalah seseorang yang pernah berada pada posisi yang bisa dibilang penting di sebuah organisasi kemahasiswaan, hampir 20-24 jam sehari waktu saya, saya habiskan untuk beraktivitas, mulai dari hal-hal yang sangat produktif, produktif, sampai tidak produktif. Mulai dari rapat hingga bersenda gurau bersama kawan-kawan di organisasi. Saya meyakini bahwa hampir semua orang organisasi atapun lainnya akan melakukan hal yang sama. Berusaha untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggung jawab, bahkan yang bukan tanggung jawabpun sering dikerjakan demi mengejar suatu kepuasan, entah kepuasan apa itu.

Seperti misalnya mahasiswa yangmengambil 24 sks, aktif di organisasi, aktif di komunitas, mengambil banyak kepanitiaan di prodi, fakultas, bahkan di universitas. Sungguh saya ingin bertanya, kalian ini mahasiswa atau mahadewa? Jika masih kebiasaan itu kalian lakukan, coba siapkan ruang sendiri untuk diri kalian sendiri. Apakah sebenarnya yang sedang kalian cari dan kalian kejar? Apakah semua itu dapat memuaskan diri kalian ketika tercapai? Jika ia, apakah itu akan bersifat langgeng? Atau hanya akan menjadi emosi sesaat?

Saya sangat meyakini bahwa setiap orang di muka bumi ini memiliki cita-cita, tujuan, ambisi dan lain sebagainya. Entah untuk kepuasaan diri maupun pengakuan dari orang lain maupun lingkungan yang kembali hasil akhirnya adalah kepuasan diri lagi. Ya ya, semuanya tentang kepuasan diri. Saya adalah orang yang memiliki cita-cita yang lumayan tinggi pula dan bahkan sangat tinggi (yaelah namanya juga cita-cita ya harus tinggi brooohhh, hehe).

Saya memiliki mimpi dan cita-cita di tahun 2027 saya akan menjadi milyarder dengan memiliki uang sebanyak Rp 357.000.000.000,00 (jika tidak terjadi inflasi atau lain sebagainya), menjadi seorang motivator, membuat buku, memiliki perusahaan yang bergerak dalam properti, teknologi, dan makanan. Membuat yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan spesifik menyediakan sekolah dan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu terutama yang berstatus yatim piatu (maklum saya merasa senasib dengan mereka semua), lalu terakhir nambah lagi karena  gejala sakit yang saya derita hari ini, saya ingin memiliki yayasan lagi yang bergerak dalam bidang kesehatan untuk mencegah penyakit kanker usus. Wah besar sekali ya cita-cita saya. Tetapi ya memang cita-cita dan mimpi itu harus tinggi. Seperti kata Bapak Bangsa kita yaitu Ir. Soekarno “Bermimpilah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”.

Saya dan kalian semua, harus menolak menjadi anak muda biasa saja, dengan cita-cita dan mimpi biasa saja. Apa salahnya bermimpi dan bercita-cita kan, toh juga gratis. Kita harus menolak menjadi pemuda biasa yang jangankan untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, untuk bermimpi dan bercita-cita saja sudah takut duluan karena selalu menghadapkan realita hari ini dengan cita-cita itu. Toh dulu siapa yang pernah menyangka kita bisa merdeka, toh siapa yang bisa mempercayai mimpi para Founding Fathers kita. Bahkan orang sekelas Larry Page dan Sergey Brin (penemu google) pernah diremehkan cita-citanya, meski sekarang hampir semua dari kita menikmati hasil dari mimpi mereka. Jack Ma, Steve Jobs, Bill Gates, Merry Riana dan banyak lagi lainnya tokoh-tokoh yang pernah dicemooh karena bermimpi.

Tetapi kawan-kawanku semua, saya sungguh tidak ingin berfokus tentang membenarkan memiliki cita-cita, tetapi saya di sini ingin berbicara lagi tentang masa hari ini. Terkadang ketika kita sibuk mengejar cita-cita masa depan, sering kita mengabaikan bagaimana caranya menikmati hidup hari ini. Saya sendiri hari ini merasakannya sekali. Bagaimana cita-cita dan mimpi yang telah saya patrikan dalam khayalan masa depan, akhirnya berbeda 180o dengan keadaan yang menimpa saya hari ini.

Menjadi milyarder tergantikan oleh menghabiskan uang orang tua karena gagal bisnis bitcoin, dan banyaknya uang yang harus dikeluarkan karena biaya rumah sakit. Menjadi seorang motivator malah digantikan oleh rasa bersalah karena tidak menjaga asset tubuh yang utama yaitu kesehatan. Cita-cita membuat buku, malah kemarin begitu malas rasanya untuk sekedar membaca buku, akibat terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif dari penyakit. Apalagi mimpi memiliki perusahaan dan membuat yayasan, sungguh sekarang rasanya saya sedang ketakutan akan tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi jika seandainya sakitnya benar-benar ganas.

Jika kalian yang belum sampai kondisi tubuhnya seperti saya, segeralah berbenah. Jangan sampai menjadi aktivis di kampus tetapi menelantarkan orang tua karena jarang pulang atau bahkan sampai jarang menghubunginya. Jangan sampai peka terhadap isu-isu kemasyarakatan tetapi tidak pernah berkunjung kekeluarga dan kerabat dekat. Jangan sampai mengejar investasi untuk bekal tua dan membahagiakan orang tua kelak dikemudian hari, malah hari ini diri merasa tidak bahagia dan orang tua juga tidak terlalu diperhatikan karena terlalu sibuk melihat grafik saham dan mencari nasabah. Sungguh terkadang sangat mudah sekali pikiran ini disesatkan oleh ambisi sesaat.

Tetapi, saya dan mungkin kawan-kawan juga ingat bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah dan sadar. Tidak ada kata terlambat untuk mengembalikan dan mengendalikan kemudi, memutar arah dan memasang lagi navigasinya. Secepat nestapa itu datang, secepat itu pula kita bisa memperbaikinya. Selama hasrat dan harapan itu masih ada, selama itu pula manusia tetap akan hidup. Anda, saya dan kita semua pasti memiliki keinginan untuk dikenang. Ingin pergi ketika karya sudah terukir abadi melebihi usia kita sendiri.

Terlepas hari ini cita-cita dan mimpi saya dan mungkin mimpi kawan-kawan semua seakan jauh panggang dari realita, tetaplah semangat. Kalau dipikir-pikir, pencapaian kita hari ini bukankah sebuah keajaiban kalau dilihat bagaimana rasanya hidup dulu. Saya masih ingat sekali ketika saya mau didaftarkan masuk sekolah, waktu itu kelas 1 SD (maklum di dusun saya tidak ada TK), Ibu saya hanya ingin saya sekolah sampai kelas 4 agar bisa baca tulis, setelah itu cukup jadi bandar togel bersama kakak sepupu (waktu itu memang togel sedang marak di desa saya dan bisa mengatasi kebutuhan sehari-hari). Jika dibawa ke sana dan dihubungkan ke masa sekarang, rasanya juga suatu keajaiban bisa berkuliah, toh juga kenyataannya saya sekarang sedang berkuliah. Dan mungkin teman-teman juga punya pengalaman yang jauh lebih ajaib daripada saya. Bukankah kita hidup di dalam keajaiban-keajaibanNya? Ayo jangan putus semangat, mari menari bersama putaran sang waktu. Seperti kata Steve Jobs, hidup memang terkadang tidak memiliki makna jika hanya dilihat di satu masa, tetapi ketika titik-titik (dot-dot) itu dihubungkan (dari masa lalu hingga sekarang), maka ia akan segera membentuk suatu pola yang patut kita syukuri.

Ayo tetap kita jaga keyakinan bahwa Tuhan adalah sutradara terbaik untuk hidup kita semua. Rencana Tuhan pasti selalu berakhir dengan kebaikan, jika belum baik, itu tandanya rencana Tuhan belum berakhir. Mungkin hari ini ada hikmah di balik bencana, ada pelajaran yang dapat dipetik lewat kegagalan, rasa sakit, maupun penyakit yang sedang menghinggapi tubuh. Semua itu pasti ada hikmahnya, bisa saja Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa tidak ada yang bisa luput dari kehendakNya, sehebat apapun manusia itu. Terkadang benar, membiarkan diri berdansa bersama putaran sang waktu adalah pilihan yang tepat. Salam hangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *