Organisasi Kemahasiswaan sebagai Pelopor Utama Membangun Rasa Cinta terhadap Kampus



Tidak dapat dipungkiri bahwa Universitas Udayana adalah merupakan universitas tertua dan terbesar di Bali. Universitas yang dikenal dengan visinya yaitu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, mandiri dan berbudaya ini adalah salah satu bukti, komitmen dan keseriusan Udayana untuk dapat menjadi salah institusi yang memiliki daya saing global, namun tetap mengakar kuat pada pelestarian budaya-budaya yang ada. Itulah yang seharusnya dimiliki oleh sebuah institusi, sebuah negara atau bahkan unit terkecil sekalipun yaitu individu. Jika ada yang bilang we must think local and act global, atau think global and act local, saya rasa yang lebih baik dari itu adalah how to make the local can go to global without kill the local genius.

Baiklah, tanpa bermaksud memperlebar topik bahasan, ijinkan Saya dengan segala kelemahan dan kerendahan pengetahuan, mencoba untuk menyampaikan gagasan secara tertulis tentang permasalahan dan persoalan yang ada. Universitas Udayana, ya memang benar adalah universitas terbesar dan tertua di Bali. Ya memang benar, Universitas Udayana adalah barometer dan kiblat ilmu pengetahuan di pulau Bali ini. Namun ada satu persoalan yang harus kita jawab secara bersama-sama yaitu, sudahkah orang-orang (civitas akademika Unud) merasakan kebesaran dan kemashyuran itu? Sudahkah kita mencintai dengan sepenuh hati kampus kita ini? Menerima buruk maupun baiknya kampus ini sebagai sebuah dinamika yang harus dilewati, sudahkah kawanku? Sudahkah kita?

Saya rasa tidak ada yang lebih mengembirakan ketika mengetahui bahwa sebuah rumah begitu disayangi, dirawat dan dibanggakan oleh pemiliknya. Tidak ada yang lebih menyayat hati jika seandainya kebesaran dan kehebatan orang tua yang bahkan terkenal hingga seantero negeri tapi diragukan oleh anak-anaknya sendiri. Saya sangat yakin bahwa dari sekian puluh ribu civitas akademika Unud, pasti ada banyak yang sangat mencintai Unud, entah sebagai rumah kedua, sebagai sumber pengetahuan, ataupun sebagai sumber pergaulan dan penghidupan. Namun saya juga sangat yakin, bahwa masih banyak dari kita yang bahkan hanya menganggap Unud sebagai tempat yang biasa-biasa saja.

Saya sering kali diberikan nasehat oleh Bapak Nyoman Suyatna selaku ayahanda kami di kemahasiswaan. Beliau selalu menyampaikan pentingnya rasa memiliki terhadap kampus sebagai sendi utama kemajuan kampus itu sendiri. Beliau mengeluhkan ketika mahasiswa tidak tahu apa yang menjadi visi unud, beliau pernah curhat tentang (mohon maaf) alumni yang katanya setelah sukses lupa dengan Unud. Namun beliau juga menyampaikan bahwa banyak juga alumni yang peduli dengan kampus, tetapi kembali jika dibandingkan dengan UI, ITB, maupun UGM dan kampus-kampus besar lainnya, kita masih kalah jauh. Ikatan alumni mereka begitu kuat, karena memang tidak dapat dipungkiri ‘kebesaran sebuah kampus’ juga dilihat dari seberapa kuat ikatan alumninya.

Saya pun sebagai mahasiswa yang notabene baru, juga dapat merasakan apa yang disampaikan Bapak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan ini. Saya pun sepakat bahwa kebesaran seorang mahasiswa tidak serta merta ditentukan oleh kebesaran kampusnya, tetapi kebesaran sebuah kampus sangat ditentukan oleh kebesaran dan kecintaan para mahasiswa terhadap kampusnya. Namun ada satu pertanyaan menggelitik yang harus kita jawab secara bersama, apakah yang menyebabkan kita belum atau tidak benar-benar mencintai kampus kita? Apa sih yang menyebabkan kita begitu apatis terhadap persoalan-persoalan yang ada di kampus tercinta ini?

Berangkat dari keresahan inilah, saya memutuskan diri bersama rekan saya Wahyu Jati untuk mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM PM Unud. Hampir semua rekan yang kami temui baik dalam kampanye, maupun dalam pergaulan, selalu mengeluhkan tentang ketidaktahuan (apatisme) kita terhadap kehidupan rekan-rekan kita, entah itu dibeda fakultas maupun jurusan atau bahkan dalam satu jurusan sekalipun. Jika tidak percaya, coba hitung seberapa banyak orang-orang yang kita kenal dalam jurusan kita? Saya rasa untuk mencapai hitungan 30%-50% dari total mahasiswa di jurusan pun sulit, terutama jurusan-jurusan dengan jumlah massa banyak.

Dari sinilah timbul, tumbuh, dan berkembang keinginan kami untuk membuat program kerja sederhana, namun dirasa efektif untuk menjawab persoalan dan permasalahan tentang apatisme mahasiswa terhadap kampusnya. Menurut kami, hanya ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Harus ada permasalahan yang dihadapi secara bersama (terinspirasi dari demo eksekusi tanah)
2. Harus ada kegiatan yang dilakukan secara bersama.
3. Harus ada apresiasi dan rasa bangga terhadap prestasi yang dicapai ketika ada yang mengharumkan nama Universitas Udayana.

Dari tiga hal ini, maka ada satu aktor penting yang dapat mewujudkan itu semua yaitu organisasi kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan harus berusaha memikul tanggung jawab ini, meskipun beban menjadi mahasiswa saja sudah begitu berat. Organisasi kemahasiswaan tidak boleh lagi hanya berfokus pada acara-acara seremonial, event-event yang menghabiskan banyak dana tetapi tidak dirasakan dampaknya langsung oleh mahasiswa dan institusi. Organisasi kemahasiswaan hadir sebagai penyambung lidah mahasiswa kepada kebijakan kampus.

Melihat kenyataan tersebutlah, maka Saya dan Wahyu mencoba untuk menawarkan beberapa program kerja sebagai gagasan kami menjawab permasalahan tersebut. Dari sinilah lahir program kerja Udayana Bisa, Udayana Bangga, Udayana Peduli, Udayana Expo, Hotline Mahasiswa, Ksatria Info Lomba, Ksatria Info Beasiswa, Laboratorium PKM, Posko UKT dan banyak lagi lainnya terbingkai dalam cita-cita luhur kami yaitu KITA Udayana. Besar harapan kami melalui program kerja-program kerja ini, dapat menjadi babak baru untuk kita membangun rasa cinta terhadap almamater kita. Kami sangat yakin seyakin yakinnya, bahwa kecintaan dan rasa sayang alumni terhadap kampus, lebih mudah terbangun pada saat ia masih menjadi mahasiswa ketimbang ketika sudah selesai menjadi mahasiswa. Maka jelaslah, membuat mahasiswa cinta terhadap kampus selagi ia masih menjadi mahasiswa adalah harga mati.

 

Sumber tulisan: pemikiran sendiri

Sumber gambar: Dokumentasi Kegiatan BEM PM Unud